Kembali menulis buku harian setelah sekian lama tidak percaya pada buku itu, untungnya belum ku buang.
Pagi itu..... suicide, ya bunuh diri menakutkan memang jika kufikirkan kata itu dalam waras, tapi jika dalam keadaan depresi yang aku tau hanya lepas, kebebasan, pergi. Pagi itu kucoba untuk mengakhiri semuanya letih rasanya. terlalu banyak tekanan, tidak ada lagi tempat yang bisa membuatku aman, nyaman, kecuali tempat itu, ya lab komputer sekolah dan orang yang ada didalamnya, namanya pa kamal. tapi pagi itu semuanya terasa tak ada gunanya. setelah bertengkar dengan ayahku kubenturkan kepalaku berulang kali didinding kamar mandi. yang kudapati hanya memar, ntah berapakali. mungkin terlalu banyak, sehingga membuatku lupa. kubenturkan lagi ke ujung kayu tempat tidurku tetap biasa saja dan aku berfikir sia-sia saja.
Akhirnya kupecahkan kaca yang berada dikamar. Kurasa ibuku curiga, sehingga ia memanggil ayahku, kupercepat mengambil serpihan kaca, jari-jariku berdarah. heran, tidak ada rasa sakit sedikitpun. akhirnya kuambil serpihan kaca itu. belum sempat aku melakukannya ayahku sudah berhasil membuka pintu. kugenggam erat-erat kaca itu karena memang ukurannya tidak terlalu besar. Dia menamparku hingga terjatuh. berkali-kali. ayahku mendorongku untuk membersihkan kaca itu. dia memakiku, menggertakku, dan berkali-kali slalu ingin melemparkan sesuatu padaku. kupikir biasa saja, aku tidak takut, ku tak peduli, pukul saja aku sampai mati fikir ku. memang itu yang kuinginkan.
untungnya aku tidak membuang semua serpihan itu, kusimpan satu, agar bisa menjadi penyelamatku nanti, saatku merasa tertekan lagi.
ayah, jika kau mencintaiku. kau tak mungkin memukulku. karena,jika aku saja menyukai kucing, dan aku tidak akan pernah memukulnya bagaimanapun buruknya kucing itu.
Jangan tanyakan apa aku mencintaimu ayah, tanyakan pada dirimu apakah begitu caramu mencintaiku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar